”tentang sebuah idealisme yang tak pernah lunas terbayar”

Aku ingin hidup tidak hanya untuk kuliah, belajar dan buku.
Aku ingin menentukan arah hidupku sendiri layaknya orang lain.
Tapi mengapa aku tidak pernah bisa??
Aku ingin ikut teater lagi, ingin bisa nari lagi, pramuka lagi, camping lagi.
Tapi kenapa sekarang seolah aku terperangkap di dalam diktat kuliahku saja?
Aku tau aku tidak mungkin bisa mengorbankan kuliahku untuk kegiatan2 di luar itu, tapi aku juga tidak bisa kalau terus menerus seperti ini.
Setiap hari aku selalu disibukkan dengan buku2 dan diktat2, juga laporan2 yang sering membuatku mual.
Orang bilang, mahasiswa itu harus aktif di luar kampus. Tapi apa aku bisa melakukan kegiatan di luar sementara kuliah saja sudah membuatku terkapar. I
ngin aku merasakan senengnya nongkrong2 sambil diskusi tentang teater, tentang musik ato yang lain.
Tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk melakukan itu.
Kemarin aku baca pamflet di papan pengumuman, ada acara diklat UKMP. Siapa yang tidak mau ikut kegiatan semacam itu? Aku juga mau. Sangat mau, malah. Tapi apa yang terjadi?
Kegiatan UKMP itu bentrok dengan acara PPLM, dan KKLq. SEBBBBBBEEELLLL!!!!
Rasa2nya otakku sudah tidak bisa memikirkan yang lain selain biologi, biologi, dan biologi.
Muak aku dengan semua rutinitas ini.
Tapi aku bisa apa? Aku tidak mungkin menelantarkan kuliahku.
Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menjalaninya meskipun aku harus mengorbankan idealismeku sendiri.
Aku rindu teriakan CHAOS!!!!!!!!!
Aku rindu berteriak A…B….C…D…E…F…..!!!!
aku rindu semuanya.
Duniaku sudah tidak lagi berwarna seperti dulu.
Aku adalah robot laporan, praktikum, presentasi, dan diktat kuliah.
Haruskah aku terus seperti ini?

3 thoughts on “”tentang sebuah idealisme yang tak pernah lunas terbayar”

  1. meski tulisan ini udah lama jadi pengen comment gini:

    Aku ingin: aku dan mereka, kita semua…melihat ke luar jendela…..
    melihat dunia asing, yang belum pernah kita jamah dengan pikiran terbuka

    kemudian kita duduk bersama dan saling bercerita tentang apa yang kita lihat,
    seperti sebuah keluarga,
    kemudian saling bermuhasabah dan bermusyawarah
    kemudian kita saling mencari solusi
    kemudian kita bersatu dan bertekat untuk mengobati penyakit2 yang menggerogoti
    setiap sendi kampus ini
    kemudian kita merumuskan langkah2 untuk merevolusi tatanan konvensional yang salah kaprah ini

    semua itu hanya karena…aku ingin mereka menjadi mahasiswa biasa…belajar, beroganisasi, bermain musik, dan hidup normal seperti manusia…menjadi ahli di bidang yang membuat mereka menjadi manusia
    bukan menjadi mahasiswa robot……..yang pada akhir semester, tidak tahu apa-apa

    • aku juga ingin menjadi berubah..
      meski kini bukan lagi menjadi bagian dari mereka
      tapi di tempatku sekarang aku ingin mereka tidak merasakan apa yang dulu pernah aku rasakan
      bahwa hidup menjadi diri sendiri adalah pilihan terbaik dari semua jalan terbaik yang ada di depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s