Archive | November 2008

KAMU: HUJAN DAN PELANGIKU

hujan

hujan

aku merindukan hujan yang biasa datang tiba-tiba, tanpa permisi
rindu pada butiran airnya
rindu pada kuyup basahnya
rindu pada cinta dalam gelegaknya

aku merindukan pelangi yang biasa hadir setelah hujan pergi
rindu pada 7 warnanya
rindu pada lengkung sempurnanya
rindu pada anggun titik-titik airnya

aku merindukan kamu,
yang biasa hadir ketika

pelangiku

pelangi

hujan dan pelangi tak disini
rindu pada diammu yang sepi
rindu pada dinginmu yang sunyi
rindu pada senyummu yang misteri

‘mumpung masih musim hujan, hopefully bisa liat pelangi lagi..’

Advertisements

AKU

Ingin aku berteriak pada angin

menumpahkan kesah yang menggumpal-gumpal di dada

berharap akan menguap dan tak pernah luruh lagi

Aku jengah

Aku lelah

Aku marah

MIMPI

apakah harus aku percaya pada mimpi?
pada bunga tidur yang hanya menjapagidi pewarna agar kematian sementara ini tak hanya hitam putih saja.?
aku takut dejavu akan datang menghampiriku di tempat dan waktu yang tak pernah ku ketahui. di suatu masa yang telah melenyapkan memori belasan minggu silam.
biarkan saja detik-detik yang berlalu menghapus kenangan mimpi. setelah menikamkan jejak yang sehari penuh tadi aku kabarkan untuk pada angin.
aku tak ingin bermimpi. tidak untuk saat ini.

LENTERA JIWA

LENTERA ku“Kubiarkan ku mengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
ku percaya dan ku yakini murninya nurani
menjadi penunjuk jalanku, lentera jiwaku..”
song: Nugie–Lentera Jiwa

Andaikan saja menuruti kata hati semudah menyanyikan lagu ini, mungkin sekarang aku tidak lagi ada disini. aku tahu, bukan disini panggilan lentera jiwaku. aku bahkan sangat mengerti, lentera jiwa itu tidak menuntunku kesini. tapi aku tidak pernah berani mengambil keputusan untuk benar-benar mengikuti panggilan suara hatiku. aku hanya sesekali saja meliriknya, meski kadang ku pandangi hingga menyilaukan mata tapi langkahku masih berlari menjauhinya, membiarkan cahaya itu tertinggal di belakangku.
gelap memang, hanya ada sebongkah obor kecil menemaniku. tapi aku memaksakan mataku untuk akrab dengan kegelapan, mampu melihat kanan dan kiri, depan, dan tak pernah ku biarkan menoleh ke belakang.
apakah aku harus kembali, menemui lentera jiwaku dan memintanya menemaniku? ya, dengan begitu mungkin aku akan lebih bahagia.
Ahh,,tapi sekali lagi aku tidak pernah berani. aku diam saja mendengar otak kananku berontak meminta energi yang sama. memang, porsi energiku telah mengolengkan perahu otakku ke kiri. untung saja aku belum sempat tenggelam. sisa-sisa energi untuk otak kananku masih menyelamatkan perahu ini tetap berlayar. walaupun terseok, meski harus tertatih, aku tak ingin peduli…

Cinta Itu Pembatas Buku

cinta...cinta....cinta... ADDICTED!ketika cinta itu datang,
serupa angin menderu-deru membelah waktu
memecah dingin yang senyap beberapa saat
Hampir limbung rasanya
dihantam terik menggelegak
aku bungkam
Merah di pipi ku pucatkan
desir-desir halus menggelitik ku abaikan
Aku sedang tak peduli dengan cinta
tak ingin peduli lebih tepatnya.
terlalu naif jika ku katakan aku sedang bahagia
tapi memiliki cinta untuk saat ini sama saja memecah kepalaku dengan alugora
Berkecamuk setiap detik yang berlalu dalam rongga kepalaku
memukuli tepian foramen
hingga timpaniku bergetar tak putus-putus
menciutkan nyali untuk bertualang di tengah kesemrawutan
Biarkan saja cinta terperangkap sebagai pembatas buku
namun lembar dan halaman akan tetap terlewati
hingga pada suatu ketika yang tak diketahui, aku akan memindahkannya
Bukan untuk sementara
tapi sampai halaman terakhir telah selesai terbaca
pembatas buku itu akan tetap disana..

malang, akhir oktober 2008

AKU dan PAGI

kenapa embun identik dengan pagi?Keheningan menghampiriku,
menusuk sgala tiba
kebencian kini tiba
cahya mentari rubah sgala luka hati
kini ku terlahir kembali,
dalam hidup untuk berjuang
aku hidup lagi
sgala yang tiba akan datang
menjelaskan setiap detik yang berlalu dalam paradoks hidupku
ditingkah embun yang turun
aku tersadar untuk tak beku
tak biarkan pagi merampas mimpi
tengadah saja,
menyaksikan mentari yang perlahan naik,
semua akan pasti

malang, 4 nopember 2008

with my little brother: jangan pernah berhenti bersajak, meski kadang hidup tak seindah sajak yang kita buat..