ANTARA RUANG DAN WAKTU

Sesaat kupandangi wajah pias di depanku. Alfin. Ku buang mukaku setelah beberapa detik mata kami beradu. Dan aku kembali melarutkan diri dalam tumpukan buku-buku dan laporan praktikum. Dari sudut mata aku melihat dia masih memperhatikanku. Aku jadi risih dipandangi seperti itu.

ruang

ruang


Apa maksudmu menemuiku disini, Fin? Kenapa kamu tiba-tiba datang justru di saat aku ingin melupakanmu?!
Aku membatin kesal sekaligus resah.
Apa Alfin akan memintaku untuk kembali?
Sore itu perpustakaan cukup sepi. Aku sedang mengerjakan laporan praktikumku di salah satu sudut perpus ketika laki-laki itu tiba-tiba datang dan duduk tepat di depanku. Hanya meja yang membatasi kami berdua. Bukan lagi ruang, bukan lagi waktu.
”Ta…” akhirnya laki-laki di depanku itu buka suara setelah beberapa saat lamanya waktu berlalu tanpa suara. Dia memanggil namaku.
Sunyi. Kami sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.
”Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya kemudian. Aku masih asyik dengan buku-bukuku. Pura-pura tidak mendengar.
Baik-baik saja katamu? Setelah hampir 4 tahun aku nunggu kamu, menyimpan cinta dan setiaku dengan harapan kamu akan datang kembali menepati janjimu. Kamu menghilang begitu saja, dan aku terluka. Dan sekarang kamu seenaknya saja bilang aku baik-baik saja? Kamu keterlaluan, Fin!
Ingin rasanya ku keluarkan kata-kata itu dari bibirku. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Kata-kata itu hanya bergemuruh menyesaki rongga dadaku.
”Aku akui, aku salah…” ujarnya lagi sambil mengubah posisi duduk.
Ahh, ternyata kamu sadar kalo apa yang kamu lakukan adalah kesalahan. Tapi kenapa pengakuan itu baru datang sekarang?
”Aku tahu kamu marah sama aku. Tapi please, beri aku kesempatan sekali lagi. Paling tidak ijinkan aku untuk kembali menjadi bagian dari hidupmu.” Alfin masih duduk di depanku, dan aku yakin dia masih memandangiku. Kupaksakan bola mataku untuk mengeja huruf-huruf di buku yang ku pegang, meskipun tidak ada satupun kata yang sempat mampir di kepalaku.
waktu

waktu


Aku masih ingat, kata-kata seperti itu pula yang pernah kamu ucapkan 4 tahun lalu. Saat itu kamu berjanji bahwa tidak akan ada cinta lain dalam hidupmu selain aku. Kamu mengakui kesalahan yang baru saja kamu perbuat waktu itu dan mengeluarkan kata-kata itu sambil…. Ahh, kamu mengatakannya sambil menangis waktu itu, Fin. Dan aku memaafkanmu. Aku percaya kamu benar-benar bisa kembali menyayangiku sepenuhnya.
Setelah kejadian itu aku berharap kita berdua bisa menjalani hari-hari yang lebih baik dan kita tinggalkan masa lalu itu sebagai ruang introspeksi bagi kita. Aku berharap kamu berubah. Tapi ternyata tidak! Hanya selang 2 minggu setelah kamu minta maaf sama aku, kamu malah menghilang begitu saja. Ponselmu tidak bisa dihubungi, tempat kosmu pindah. Aku benar-benar kehilangan jejakmu. Kamu juga jarang kelihatan di kampus. Rupanya kamu sengaja menghindar dariku. Kita benar-benar telah terpisah, Fin. Tersekat ruang dan waktu.
Kalimat demi kalimat itu masih saja menyesak di dadaku. Mungkin terlalu lama kalimat-kalimat itu terpendam hingga sulit untuk aku biarkan mengalir dan menggetarkan gendang telinganya.
”Sebenarnya waktu itu aku pingin ketemu sama kamu, Ta.” aku terheran-heran, darimana dia tahu tentang apa yang tengah aku pikirkan? ”Tapi…” kalimat Alfin menggantung. Senyap beberapa saat.
Tapi apa Fin? Kembali hatiku menjerit-jerit. Benarkah kamu pingin ketemu aku? Lalu kenapa dulu waktu aku sakit kamu tidak pernah datang menjengukku? Berpuluh-puluh obat dokter sudah ku telan dengan paksa, tapi penyakitku tidak kunjung sembuh. Dokter bilang, obat apapun tidak akan menyembuhkanku. Hanya ketenangan batin yang aku butuhkan untuk membuatku terbebas dari rasa sakit itu. Ya, batinku memang tidak pernah tenang semenjak kamu pergi dan menghilang. Dan aku terus menunggumu, Fin. Tapi kamu tidak pernah datang.
Ahh, rasanya ingin ku biarkan jeritan hatiku mengalir begitu saja. Tapi tak bisa. Tenggoranku tercekat.
”Aku akan menebus kesalahanku, Ta… Dengan cara apapun!!” Alfin masih betah duduk di depanku walaupun sedari tadi aku membisu.
Benarkah kamu akan menebus kesalahanmu, Fin? Buat aku percaya kalau kamu bisa menebus kesalahan itu. Perbuatanmu yang mana yang bisa aku percaya. Janji kamu empat tahun lalu itukah? Atau kata-kata gombal yang kamu obral untukku selama satu jam tadi?
”Aku masih sayang kamu, Ta.. Kamu harus percaya itu.”
Sayang? Sayang katamu?Aku mendengus kesal.
Berani-beraninya kamu bilang kamu masih sayang aku. Kalau memang kamu masih sayang aku, untuk apa kamu menghindar dariku? Menghilang. Mencampakkan dan membiarkanku mengisi hari-hariku dalam sendiri. Untuk apa?
Dan kemana kamu pergi selama ini? Kemana perginya rasa sayang untukku selama 4 tahun itu? Hilangkah? Tercurikah? Atau…?
”Apa kamu masih sayang aku, Ta…?” aku terperanjat. Kurasakan wajahku memucat. Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulutnya. Pergolakan dalam batinku sedang dimulai, aku berusaha keras mengais-ngais perasaanku.
Benarkah masih ada rasa sayng untuk dia?Kurasa tidak mungkin! Sudah terlalu banyak luka yang dia buat di atas lembaran penantianku. Tapi…… kalaupun memang benar aku tidak lagi menyayanginya, lalu untuk apa ku korbankan 4 tahunku untuk menunggunya? Ahh, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya tentang hatiku.
Kudongakkan wajahku. Berusaha mengumpulkan segala keberanian untuk menatap matanya. Mata itu, yang memiliki tatapan teduh yang dulu pernah memporakporandakan hatiku, kini sedang berkaca-kaca. Sungguh, aku tidak kuasa untuk melihatnya.
Kenapa kamu menangis, Fin? Kembali kalimatku bergemuruh mengisi sudut-sudut hati yang masih menyisakan ruang kosong. Akankah kamu membeli perasaanku dengan air matamu? Aku benci melihatmu menangis. Karena tangis itu pula yang telah membutakan hatiku hingga aku rela mengorbankan 4 tahunku untuk menunggumu. Menunggu kepastian dari janji-janjimu.
”Aku butuh jawabanmu, Ta… Apa kamu masih sayang aku? Kalau memang sudah tidak ada lagi maaf dan sayangmu untukku, aku akan pergi dan tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi.”
Air matanya mulai meleleh membasahi pipi. Aku tidak tega melihatnya menangis seperti ini. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatiku. Tapi tidak ada satu patah kata pun yang berhasil aku ucapkan. Hanya air mataku yang mulai deras mengalir. Akhirnya tumpah juga air mata ini untuk Alfin. Semoga ini yang terakhir.
Beberapa detik berlalu, hingga merayap menjadi menit. Aku belum menjawab pertanyaannya. Harus ku jawab dengan apa? Bahkan aku sendiri pun belum mampu menemukan jawabannya. Tuhan…apa yang harus aku lakukan?
”Mungkin aku memang harus pergi…” aku tersentak kaget. Pergi…??
”Aku sadar, terlalu banyak luka yang sudah aku tinggalkan untuk kamu. Kamu memang berhak untuk tidak memaafkan aku. Tapi kamu harus tahu satu hal…” Alfin terisak. Fin, aku tidak pernah suka kamu menangis!
”Sampai kapan pun aku akan tetap sayang kamu.” Mendadak suasana menjadi begitu sunyi. Tiba-tiba Alfin berdiri. Kursi yang didudukinya berderit. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mampu menatapnya. Menelusuri seraut wajah yang selalu aku tunggu sejak 4 tahun lalu. Seraut wajah yang tidak pernah absen hadir dalam mimpi-mimpi malamku. Seraut wajah yang sangat aku rindukan.
Dia tersenyum memandangku. Senyum yang menyimpan seribu satu arti yang belum pernah mampu aku pahami. Kemudian dia melangkah meninggalkanku. Mataku tidak lepas menatap punggungnya yang perlahan menjauh.
Benarkah Alfin akan benar-benar pergi? Hatiku kembali berteriak. Benarkah dia tidak akan pernah kembali lagi? Apakah aku akan kehilangannya dan tidak pernah memilikinya? Apakah aku akan kehilangan dia selamanya? Apakah ruang dan waktu akan kembali membatasi aku dan dia? Apakah…?
”Fin….!” panggilku tiba-tiba. Dia menoleh setengah kaget. Aku pun tidak kalah terkejutnya. Bahkan aku sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja aku lakukan. Semuanya terjadi di luar kesadaranku. Kenapa aku tadi memanggilnya? Apakah aku sudah menemukan jawabannya?
Aku berdiri. Dia melangkah mendekatiku.
Kembali hanya meja yang membatasi aku dan dia. Bukan lagi ruang, bukan lagi waktu. Tetapi hingga detak jarum jam terus berputar, lidahku masih saja kelu.

Medio Juli, 2006
Buat Fin: aku tidak lagi memerlukan jawaban itu.
Written by: Mawar Pratiwi

3 thoughts on “ANTARA RUANG DAN WAKTU

  1. @cho2: akhirnya yahhhhh semoga yang sekarang dijalani adalah pilihan terbaik dan sekaligus jalan terbaik untuk masa depan.
    dan apa yang sudah terjadi kemarin2 biar hanya menjadi kenangan.
    trims uda mampir ke blogku.
    kapan2 berkunjung lagi ya….

    @didita: tengz uda berkunjung ke sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s