Archives

aku benci malam

aku benci pada malam,
yang tak pernah bosan mengirimkan bayanganmu ke sudut benakku.

aku benci pada angin,
yang selalu mengabarkan kerinduan akan rasa yang pernah ada

tak bisakah fajar datang lebih awal?
hingga malam dan angin segera menguap berganti pagi

penantian ini hanyalah kamuflase kecewa yang tengah beralih rupa
esok atau malam ini samalah jua
karna kamu tidak akan pernah hadir,
meski hanya untuk singgah
13 Januari 2009

langit malam

langit malam

Advertisements

waktu

waktu berdetak lebih cepat hari ini
serasa berlari menyeret paksa langkahku
tak bolehkah jika aku meminta sejenak waktu berhenti melaju?
biarkan ku mengurai rasa ini yang hampir bersimpul mati
satu menit saja
sebelum semua terlanjur tak ku pahami

”tentang sebuah idealisme yang tak pernah lunas terbayar”

Aku ingin hidup tidak hanya untuk kuliah, belajar dan buku.
Aku ingin menentukan arah hidupku sendiri layaknya orang lain.
Tapi mengapa aku tidak pernah bisa??
Aku ingin ikut teater lagi, ingin bisa nari lagi, pramuka lagi, camping lagi.
Tapi kenapa sekarang seolah aku terperangkap di dalam diktat kuliahku saja?
Aku tau aku tidak mungkin bisa mengorbankan kuliahku untuk kegiatan2 di luar itu, tapi aku juga tidak bisa kalau terus menerus seperti ini.
Setiap hari aku selalu disibukkan dengan buku2 dan diktat2, juga laporan2 yang sering membuatku mual.
Orang bilang, mahasiswa itu harus aktif di luar kampus. Tapi apa aku bisa melakukan kegiatan di luar sementara kuliah saja sudah membuatku terkapar. I
ngin aku merasakan senengnya nongkrong2 sambil diskusi tentang teater, tentang musik ato yang lain.
Tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk melakukan itu.
Kemarin aku baca pamflet di papan pengumuman, ada acara diklat UKMP. Siapa yang tidak mau ikut kegiatan semacam itu? Aku juga mau. Sangat mau, malah. Tapi apa yang terjadi?
Kegiatan UKMP itu bentrok dengan acara PPLM, dan KKLq. SEBBBBBBEEELLLL!!!!
Rasa2nya otakku sudah tidak bisa memikirkan yang lain selain biologi, biologi, dan biologi.
Muak aku dengan semua rutinitas ini.
Tapi aku bisa apa? Aku tidak mungkin menelantarkan kuliahku.
Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menjalaninya meskipun aku harus mengorbankan idealismeku sendiri.
Aku rindu teriakan CHAOS!!!!!!!!!
Aku rindu berteriak A…B….C…D…E…F…..!!!!
aku rindu semuanya.
Duniaku sudah tidak lagi berwarna seperti dulu.
Aku adalah robot laporan, praktikum, presentasi, dan diktat kuliah.
Haruskah aku terus seperti ini?

teguran lewat kesalahan

Astaghfirullah……
aku banyak melakukan kesalahan akhir2 ini
mungkin ini adalah teguran karena akhir2 ini aku terlalu sombong dengan keberadaanku
terlalu angkuh dengan ketiadaanku
terlalu takabur dengan ketakpunyaanku…

Allah menegurku dengan halus
lewat kesalahan yang mampu termaafkan, tapi tak akan pernah terlupakan

Allah masih menyayangiku
mengingatkanku dengan begitu lembut
dengan cara yang terbaik
dengan cara yang membuatku tersadar…

Allah masih menutupi aibku
dengan cinta yang tak hingga
dengan rahmat yang tak terkira

Allah menegurku dengan halus
dengan bahasa yang mudah ku mengerti
dengan kata yang tak membuatku sakit hati

Allah menegurku dengan halus….

pinangan itu….meluluhlantakku

Malang, 5 Maret 2008

Dadaku terasa meledak!
SESAK!!!

Antara kaget, shock, senang, bingung, rikuh, nervous,, semua campur jadi satu.
Hanya karena DIA.
Cukup dia saja yang membuatku seperti ini.

Beginikah rasanya dikhitbah?

Seandainya saja ini semua bener2 kenyataan,
andai saja ini semua bukan hanya sekedar gurauan…
Ahhh andai saja…

Tapi lagi2 aku tau diri. Aku ini bukan siapa2. aku masih harus lebih jauh melangkah untuk menggenggam semua harapan itu.
Harapan yang tak hanya sekedar di angan, tapi terwujud menjadi nyata.

Apalah artinya seorang Tiwi untuk seorang seperti dia?
Apalah artinya orang seperti aku di depan seorang yang punya banyak kelebihan?
Aku punya apa untuk aku tukar dengan milik dia?
Aku berani memberi jaminan apa untuk balasan yang begitu berharga?
Ahhh..aku memang tak pantas berharap banyak pada dia

Rasanya ingin aku menangis waktu aku sadar bahwa apa yang dia ucapkan malam itu hanya sekedar bercanda saja. Tidak ada maksud apa-apa.
Kalau saja bener-bener terjadi,,
Akan aku jawab: AKU MAU…
Ya, aku mau. Tapi tunggu aku lulus dulu.

Tapi sekali lagi: apakah dia mau?
Sekali lagi: apakah dia terlalu naif hingga harus memilih orang seperti aku?

Aku merasa semakin kerdil
Dengan semua keterbatasanku
Dengan semua ketidaktahuanku
Dengan semua kebodohanku
Aku hanya…..kecil.